
“Apalah Arti Sebuah Nama” adalah frase milik William Shakespeare yang begitu melegenda. Siapa yang setuju? Gw nggak!!
“Nama” adalah sesuatu yang sakral menurut gw. Seorang manusia lahir ke dunia, telanjang, suci, namun tak berdaya. Lalu orangtua memberikan nama sebagai tanda identitas diri bagi si bayi. Pemberian nama juga tidak asal jadi karena pemberian nama ini kerap dibarengi dengan perhelatan bubur merah bubur putih yang dibagikan ke tetangga sekitar setelah sebelumnya diadakan doa bersama. Nama diciptakan khusus mengandung makna dan harapan yang luar biasa agar kelak, dengan menyandang nama tersebut si anak menjadi apa yang diinginkan orang tuanya.
Tapi, ada satu fenomena yang entah dimulai sejak kapan dan oleh siapa, yang jelas dari mulai gw duduk di SD sampai bangku kuliah, hampir semua teman-teman gw punya nama “samaran”. Seorang teman mempunyai nama Rai Bagus Triadi dipanggil “Molly” katanya singkatan dari “monyet lincah”, satu teman lagi bernama Ruhimat Hudaya dipanggil “Tubles”. Jelas terlihat perbedaan yang begitu signifikan (heuheu…) antara nama asli dan nama samaran itu, gw yakin nama asli mereka memiliki arti/makna yang baik, tapi entah kenapa mereka terlihat lebih nyaman dengan nama samarannya itu, selebihnya, di antara sekian banyak nama teman-teman gw, yang gw inget sampai sekarang adalah nama samaran mereka, nama aslinya entah siapa gw lupa.
Rasa penasaran membuat naluri Einstein gw muncul, akhirnya gw mengadakan penelitian kecil dengan mewawancarai orang-orang di sekitar gw yang punya nama samaran. Berikut adalah latar belakang munculnya nama samaran tersebut:
1. Sejarah
Tetangga gw bernama “Nyangsang” (dalam bahasa Indonesia: tersangkut). Padahal nama aslinya “Yanyan Suryana”(jauh ya?). Setelah gw tanya kenapa dia dipanggil “Nyangsang”, dia bilang: “Ada sejarahnya atuh!”. Konon katanya waktu si Yanyan Suryana ini masih kecil, dia pernah manjat pohon mangga, saat dia mau turun, tubuh kecilnya “nyangsang” alias nyangkut di antara ranting pohon. Nah, sejak saat itu, semua tetangga yang tau cerita soal nyangsang’nya si Yanyan ini serempak memanggilnya “Nyangsang”, sampe sekarang nama itu masih melekat, bahkan banyak di antara teman-temanya yang sama sekali nggak tau kalau si “Nyangsang” ini bernama asli Yanyan Suryana. Oh… gitu… Sejarah yang aneh?! (pikir gw)
2. Ciri-Ciri Fisik
- Temen gw punya nama samaran “Jabeng” karena tubuhnya tinggi kurus. Dalam bahasa Sunda, tinggi kurus adalah jangkung begeng (jabeng).
- Tetangga gw dipanggil “rebing” karena telinganya yang lebar. Dalam bahasa Sunda, telinga lebar disebut “rebing”.
- Temen adik gw nama aslinya Yudi tapi dipanggil “dekdut” (pendek gendut).
- Temen SMA gw dipanggil “Tablo” (Tampang Blo’on) karna tampang nya yang blo’on.
3. Kemiripan dengan tokoh idola
Kalo inget zamannya masih kuliah dulu, gw punya langganan nasi goreng yang biasa lewat di sekitar lingkungan kosan gw, si Mas yang jualan bernama “Primus” tentu aja itu nama samaran, kalo nama aslinya yaitu “Irlin”. Kenapa dia dipanggil Primus sih katanya orang-orang bilang dia mirip Primus. Padahal menurut gw wajahnya lebih mirip Tukul Arwana daripada Primus. Ah, entahlah!! Bentuknya ledekan atau ironi, yang jelas nama Mas Irlin telah tenggelam karna semua pelanggan dan teman-temannya memanggilnya dengan nama Primus. Pun demikian dengan dirinya sendiri, lebih nyaman dengan nama samaran tersebut. Oia, adik gw punya nama samaran Memet. Konon mukanya mirip artis pelawak yang nama nya Memet.
4. Ketidak-PD-an
Kalo yang ini, ceritanya gw dapet saat gw masih duduk di bangku SMP, temen satu kelas gw punya nama Novi Lestari, nama yang lumayan cantik kan? Tapi tau nggak siapa pemilik nama ini?! Dia adalah seorang cowok. Mmmmh….
Agak keterlaluan memang si ortu, ngasih nama cowok kok begitu feminim, untung aja si anak nggak jadi kemayu kaya Emon di “Catatan Si Boy”. Alhasil si Novi ini tumbuh dengan mental “ketidak-PD-an”. Dicarilah nama samaran untuk menutupi nama aslinya.
Seorang teman mempunyai nama asli “Hasbulloh”, Subhanalloh bukan?? Pasti artinya dalem banget, tapi dia punya nama samaran “John”. Mmmmh… ini sih antara Arab dan Amrik!! Apakah ini faktor ketidak-PD-an?? Coba tanya!!
Kesimpulannya?! Diluar dari semua asal muasal nempelnya nama samaran pada seseorang, gw yakin kalo sebagian besar si pemilik nama samaran ini nggak ada niatan untuk menyembunyikan nama asli pemberian orangtuanya, semua gw serahkan pada orang-orang diluar sana yang punya nama samaran. Cuma pesan gw, kalo memang pada sengaja pengen punya nama samaran, carilah nama-nama yang lebih beradab dari nama asli, jangan nama binatang!! Please!!
(By: Restu)
Kalo “Hengky” jadi “Abok”, gw tau sejarahnya tuh!!
pasti waktu zamannya masih muda dulu, bapak hengky ini seneng banget sama lagunya Cucu Cahyati yang liriknya kaya gini:
“abok lagiiiiiiiii……ah…..abok lagiiiiii…..”
“judi lagiiiiiii……ah……judi lagi…..”
hehe…..
Sekpir emang salah.
Liat gmn orang2 pemasaran ngasih nama (brand) buat produknya, harus ada valuenya, posisi-reposisi, pembeda dsb. Wah prosesnya bs panjang karena.. menurut mereka itu penting.
Kalo nama Abok, ga seserius itu, konyol2an aja, biar (sok)gaul, yg kasi nama jg udah dibales dg setimpal.
Abok itu=Anak Baik kOk hehe
Bukankah setangkai Mawar akan tetap harum walaupun namanya bukan Mawar? (….bukan!) hahaha
Coba baca postingan lama gw ttg Master Zen (nah, disitu!), itu cerita ttg nama yg nempel dg kepribadian.