
Salah seorang teman laki-lakiku pernah berkata padaku, “Un, you make me feel like a king.” Teman kakakku pernah menulis, “Un, you make me feel like a man.” Karena aku bingung dengan statement mereka, lantas aku berfikir, kualitas apa yang ada dalam diriku, sehingga mereka bisa merasa demikian? Apa yang telah kulakukan? Apakah aku menunjukan kualitas stereotip gender tentang bagaimana seorang perempuan pada umumnya ketika bersama dengan laki-laki? Apakah aku penuh kelembutan, manis, manja, dan penurut ketika bersama dengan mereka? Sepertinya, aku tidak memilki sifat seperti itu. Aku lebih kearah pemberontak dan kritis ketika bersama mereka. Selalu bertanya dan ingin tahu segala hal saat brainstorming dengan mereka.
Aku kemudian berpikir, do I need a man to make me feel like a woman? Do I ever feel like a woman because of the existence of a man?
Mendapatkan identitas untuk sekedar diakui keberadaannya bukanlah jaminan untuk bisa mempertahankan sebuah hubungan cinta adam dan hawa. Sedangkan chemisty itu seperti senyawa yang kadang dirasakan seseorang saat merasakan perasaan “just clik” saat bertemu dengan seseorang.
Lalu, aku berpikir apakah aku sedang mencari identitas atau chemistry?? Terus, apa penjelasan terhadap perasaanku ketika aku mengalami affectionate moment dengan B? Apakah karena perlakuannya terhadapku? Atau karena adanya chemistry diantara kami yang membuat perbedaan itu menjadi terlihat afeksi terhadap satu sama lain?
Tapi senyawa chemistry itu sudah menjadfi virus bagiku, virus yang kadang menyerang tiba-tiba seperti shock therapy tapi inilah sensasinya. Virus itu menyerang memberi setangkup rasa akan sebuah cinta, setangkup rasa untuk melupakan meninggalkan masa lalu demi masa sekarang dan masa yang akan datang. Meskipun, aku tak pernah tahu siapa sebenarnya B. Apakah B datang untuknya? Ataukah B hanya tinggal sementara, lalu menghilang??? Entahlah… yang jelas aku menikmati sensasi itu bersama B….
Pasti cwok yg bilang itu suka sama lo, dia lg ngerayu lo, lo suka ya di gombalin… huw